Pemerintah Kabupaten Rembang

Beri Inspirasi, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ceritakan Perjalanan Pendidikannya Dari Beasiswa

Saat menghadiri seminar Nasional & Anniversary Forum Anak Beasiswa (FABs) ke-IX Tahun 2026 bertajuk Digital Citizenship di Pendopo Museum RA Kartini, Rembang, Sabtu (4/7/2026), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen)

Abdul Mu’ti menceritakan perjalanan pendidikannya. Menteri lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang 1991 itu mengaku tidak lepas dari beasiswa sejak masih duduk di bangku sekolah hingga menempuh pendidikan pascasarjana di luar negeri.

” Ketika sekolah alhamdulillah sering tidak bayar karena ranking satu. Ketika kuliah S1 saya termasuk penerima Beasiswa Supersemar, beasiswa dari Pak Harto,“ ujarnya.

Pejabat kelahiran Kabupaten Kudus itu memberikan gambaran susahnya mendapatkan beasiswa kala itu. Di masa Orde Baru, hanya ada beasiswa Supersemar, itupun kuotanya terbatas.

“Waktu itu satu-satunya beasiswa yang ada Beasiswa Supersemar saja. Sering kalau kami di kampus diplesetkan penerima Super Bagong. Jumlahnya tidak banyak,” ujarnya.

Ketika itu hanya ada 21 mahasiswa IAIN Walisongo dari tujuh cabang kampus yang menerima beasiswa Supersemar, dengan syarat memiliki IP minimal 3. Berbeda dengan sekarang, begitu banyak macam beasiswa, baik dari pemerintah bahkan ada yang dari pihak swasta.

“Saya ingat waktu kuliah di IAIN Walisongo, penerimanya hanya 21 mahasiswa saja. Yang IP-nya minimal 3, waktu itu cari IP 3 susahnya luar biasa, berbeda dengan sekarang, “ ungkapnya.

Menurut Mu’ti, budaya akademik pada masa itu membuat nilai tinggi sulit diraih mahasiswa. Bahkan, ia menyebut ada guyonan di kalangan dosen mengenai pemberian nilai.

“Karena ada ungkapan di kalangan dosen, nilai A itu untuk malaikat, nilai B untuk dosen, mahasiswa itu C saja. Jadi kalau punya IP di atas 3 sudah termasuk kelompok yang khas, karena jarang sekali yang punya IP 3, kalau sekarang mahasiswa asal datang saja, IP nya 3, ” katanya.

Lebih lanjut, Mu’ti menyebut setelah lulus S1, dirinya kembali mendapatkan beasiswa S2 di Flinders University Australia. Cerita tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi pelajar yang hadir dalam seminar, termasuk anggota FABs.

Iapun mengungkapkan perjalanan hidupnya dalam mengakses pendidikan tingginya yang tak lepas dari beasiswa itulah kemudian menjadi alasannya untuk datang ke acara tersebut. Bagaimana kehadiran pemerintah sangat penting bagi anak- anak desa untuk menggapai cita- cita. (Mif/Rd/Kominfo)

Exit mobile version