Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang terus memantau perkembangan dampak musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Seiring meningkatnya kebutuhan air bersih masyarakat, BPBD telah menyiapkan langkah penanganan melalui program penyaluran bantuan air bersih.
Sekretaris BPBD Kabupaten Rembang, M. Luthfi Hakim, menyampaikan bahwa hingga saat ini telah terdapat pengajuan bantuan air bersih dari tujuh desa dan dua kelurahan. Selain itu, permohonan juga datang dari lingkungan pendidikan, salah satunya SMP Negeri 3 Kragan untuk mendukung kebutuhan air bersih bagi aktivitas wudhu siswa dan guru.
“Bukan hanya dari desa, beberapa perumahan dan SMPN 3 Kragan juga mengajukan bantuan air bersih untuk menunjang kegiatan wudhu di lingkungan sekolah,” ujarnya, Kamis (27/8).
Menurut Luthfi, permohonan bantuan air bersih dari desa telah berlangsung sejak sekitar satu bulan lalu, diawali dari Desa Logung. Seiring berlanjutnya musim kemarau, jumlah wilayah yang membutuhkan bantuan terus bertambah.
BPBD saat ini tengah mempercepat proses administrasi dan regulasi sebagai dasar pelaksanaan penanganan darurat kekeringan. Setelah seluruh regulasi terpenuhi, penyaluran bantuan air bersih akan segera dilaksanakan.
“Begitu regulasinya selesai, penyaluran bantuan akan segera kami laksanakan agar kebutuhan masyarakat dapat segera terpenuhi,” jelasnya.
Untuk mendukung penanganan kekeringan, BPBD Kabupaten Rembang telah menyiapkan anggaran sebesar Rp75 juta yang dialokasikan khusus untuk kegiatan dropping air bersih. Selain itu, BPBD juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan, BUMN, BUMD, organisasi sosial, dan forum masyarakat guna memperluas jangkauan bantuan apabila kebutuhan meningkat.
BPBD mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak selama musim kemarau serta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air. Langkah tersebut penting untuk menjaga ketahanan air dan mengurangi risiko dampak kekeringan yang lebih luas.
“Yang pasti mulai menghemat air. Untuk pertanian juga menanam tanaman yang tahan dalam kondisi minim air,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan dan kebakaran lingkungan yang kerap meningkat saat musim kemarau. BPBD mengingatkan agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun membakar sampah secara sembarangan.
“Jika melakukan pembakaran, harus diawasi dengan ketat dan dipastikan tidak menimbulkan api yang merambat ke area lain,” tegas Luthfi.
Pemerintah Kabupaten Rembang terus berkomitmen melakukan langkah-langkah antisipatif dan penanganan kekeringan guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung. (re/rd/kominfo)
