Bupati Rembang, Harno, menegaskan pentingnya penguatan tata kelola lokal sebagai fondasi utama dalam membangun komunitas yang tangguh dan partisipatif. Hal itu disampaikan saat membuka seminar internasional yang digelar Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) di Aula Lantai 4 Setda Rembang, Kamis (23/4).
Bupati Harno menyebut bahwa kekuatan pembangunan tidak hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah pusat, melainkan juga ditentukan oleh kualitas tata kelola di tingkat daerah. Menurutnya, daerah yang memiliki sistem pemerintahan lokal yang kuat akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan.
“Kita menyadari bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan di tingkat pusat, tetapi juga oleh kapasitas dan kualitas tata kelola di tingkat lokal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tata kelola lokal yang baik akan melahirkan komunitas yang mampu beradaptasi terhadap perubahan, menghadapi krisis, dan terlibat aktif dalam pembangunan. Dalam konteks tersebut, partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci yang tidak bisa diabaikan.
“Partisipasi masyarakat bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama dalam menciptakan kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Harno mengaitkan penguatan tata kelola lokal dengan visi pembangunan Kabupaten Rembang 2025–2029, yakni “Mewujudkan Rembang Sejahtera”. Ia menilai, visi tersebut hanya dapat tercapai melalui pelayanan publik yang transparan, pembangunan ekonomi yang inklusif, serta penguatan sumber daya manusia.
Selain itu, pemerintah daerah juga terus mendorong pendekatan pembangunan partisipatif melalui penguatan kelembagaan masyarakat dan pembukaan ruang dialog antara pemerintah dan warga. Upaya tersebut turut didukung dengan pemanfaatan teknologi digital dalam pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat.
Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan transformasi digital, Harno menilai kolaborasi lintas negara menjadi semakin penting. Ia berharap forum seminar internasional ini dapat menjadi ruang berbagi pengetahuan dan praktik terbaik dalam memperkuat tata kelola lokal di kawasan Asia.
“Kami percaya bahwa masa depan pembangunan dimulai dari lokal. Ketika desa dan komunitas kuat, maka daerah akan kuat, dan pada akhirnya bangsa pun akan semakin kokoh,” pungkasnya. (re/rd/kominfo)
