Pemerintah Desa Criwik, Kecamatan Pancur, mulai merintis pengembangan destinasi wisata desa dengan membangun tugu durian sebagai ikon potensi lokal. Tugu tersebut dibangun di kawasan perbukitan dan dilengkapi ornamen bernuansa joglo, sebagai penanda khas desa penghasil durian.
Kepala Desa Criwik, Sampurno mengungkapkan bahwa desanya memiliki potensi durian lokal yang sudah dikenal luas, tidak hanya di tingkat kabupaten, tetapi juga di luar daerah. Buah durian Criwik bahkan kerap disebut sebagai salah satu ciri khas Kabupaten Rembang.
“Selain buahnya yang istimewa, untuk meningkatkan mutu desa sekaligus memberikan kenang-kenangan, kami membangun tugu durian sebagai ikon,” ujarnya.
Pembangunan tugu durian tersebut menggunakan Dana Desa Tahun Anggaran 2025 dengan total anggaran sebesar Rp75 juta. Meski anggarannya masih terbatas, keberadaan tugu diharapkan mampu memperkuat identitas desa sekaligus menjadi daya tarik awal wisata.
Menurutnya, pembangunan ikon desa tersebut merupakan hasil usulan masyarakat dan lembaga desa. Lokasinya berada di tanah milik negara (GG) yang dimanfaatkan untuk kepentingan umum, khususnya pengembangan destinasi wisata desa.
“Ke depan, pengunjung atau pecinta durian bisa mengabadikan momen di spot ini. Kami ingin menjadikannya sebagai tempat yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” jelasnya.
Saat ini, selain tugu durian, telah dibangun ornamen tambahan berbentuk joglo. Pemerintah desa juga merencanakan penambahan fasilitas pendukung seperti gazebo, wahana flying fox, hingga kolam renang apabila tersedia alokasi anggaran di tahun mendatang.
“Rencana pengembangan sudah ada, namun untuk saat ini masih ditunda sambil menunggu ketersediaan anggaran. Harapannya nanti bisa menjadi sarana edukasi sekaligus wahana bermain bagi anak-anak,” pungkas Sampurno.
Pemerintah Desa Criwik berharap, langkah awal ini dapat menjadi pemicu tumbuhnya sektor wisata desa yang berdampak pada peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat. (Mif/RD/Kominfo)
