Desa Glebeg, Kecamatan Sulang, resmi menjadi desa dampingan Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan pembukaan desa dampingan Koordinator Wilayah (Korwil) Pati Dinsos Provinsi Jawa Tengah tahun 2025 digelar di Balai Desa Glebeg, Selasa (18/2).
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinsos Provinsi Jawa Tengah, Isriyadi Widodo, mengatakan penetapan Desa Glebeg sebagai desa dampingan merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah yang menginstruksikan setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) memiliki minimal satu desa dampingan dalam rangka intervensi penanganan kemiskinan.
“Kita mengingat Provinsi Jawa Tengah masih masuk kategori provinsi miskin. Maka perlu mencari solusi bersama untuk menurunkan angka kemiskinan,” ujar Isriyadi.
Isriyadi yang juga menjabat Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Jateng menjelaskan, bentuk pendampingan yang dilakukan meliputi asesmen menyeluruh terhadap permasalahan, kebutuhan, serta hambatan yang dialami masyarakat, baik secara individu maupun komunitas.
“Kebutuhan masyarakat itu apa saja, apakah rumah tidak layak huni, tidak memiliki jamban, sambungan listrik, atau terkait usaha ekonomi produktif,” jelasnya.
Selain Desa Glebeg, Dinsos Provinsi Jawa Tengah juga menetapkan desa dampingan di sejumlah daerah lain, antara lain Desa Pesodongan Kecamatan Kaliwiro Kabupaten Wonosobo, Desa Gambuhan Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Pemalang, Desa Kalisalak Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas, Desa Kepuhsari Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri, serta Desa Dimoro Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan.
Dengan demikian, Dinsos Jateng tidak hanya menangani satu desa dampingan sebagaimana instruksi Sekdaprov, melainkan enam desa dampingan yang tersebar di masing-masing Koordinator Wilayah atau eks karesidenan. Hal ini dilakukan karena Dinsos memiliki bidang khusus yang menangani fakir miskin.
Sementara itu, Penjabat (Pj) Kepala Desa Glebeg, Rupadi, mengungkapkan kondisi Desa Glebeg berbeda dengan desa-desa lain karena keterbatasan potensi yang dimiliki.
“Di desa kami tidak banyak potensi. Beberapa yang ada di antaranya UMKM dan embung desa,” ungkap Rupadi.
Ia berharap, dengan adanya pendampingan dari Dinsos Provinsi Jawa Tengah, potensi yang dimiliki Desa Glebeg dapat dikembangkan sehingga mampu mendorong percepatan pengentasan kemiskinan.
Dalam kegiatan pembukaan desa dampingan tersebut, Dinsos Provinsi Jawa Tengah juga menyerahkan sejumlah bantuan, di antaranya bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) senilai Rp20 juta, bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) senilai Rp2 juta, serta bantuan alat tulis sekolah kepada 15 anak di Desa Glebeg. (mif/RD/Kominfo)
