Pemerintah Kabupaten Rembang mengimbau petani agar memperhitungkan ketersediaan air sebelum menentukan pola tanam di tengah musim kemarau. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko gagal panen, terutama pada komoditas yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan berdasarkan kondisi cuaca dalam lebih dari dua pekan terakhir, sebagian besar wilayah Rembang hampir tidak diguyur hujan. Di sisi lain, petani masih membudidayakan berbagai komoditas, seperti padi, tembakau, dan tanaman palawija.
Menurut Agus, Dintanpan telah menyosialisasikan kondisi musim kemarau beserta potensi dampaknya kepada para petani. Dengan demikian, petani diharapkan dapat menyesuaikan pola tanam sesuai ketersediaan sumber air di wilayah masing-masing.
“Secara umum kami sudah menyampaikan kondisi ini kepada petani sehingga mereka bisa memperhitungkan kebutuhan air. Harapan kami, untuk tanaman yang memang membutuhkan banyak air, pastikan terlebih dahulu tersedia sumber air,” ujarnya, Selasa (30/6).
Agus menjelaskan, kondisi sejumlah embung di Kabupaten Rembang mulai mengalami penyusutan debit air. Bahkan, beberapa embung telah mengering. Meski demikian, masih ada embung yang mampu menyuplai kebutuhan irigasi melalui pengaturan pemanfaatan air yang disepakati bersama oleh para petani.
“Kondisi embung-embung kita memang rata-rata sudah mulai surut, beberapa sudah mulai habis, ada yang masih bisa dimanfaatkan. Yang kami lihat, sudah ada pengaturan pengelolaan pemanfaatan air sesuai kebutuhan petani di masing-masing wilayah,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan embung selama ini cukup membantu menjaga ketersediaan air hingga masa panen. Untuk memperkuat cadangan air selama musim kemarau, Dintanpan juga akan melaksanakan program embung partisipatif yang dijadwalkan mulai awal Juli.
Terkait kecukupan air hingga akhir tahun, Agus menyebut hal tersebut sangat bergantung pada jenis tanaman yang dibudidayakan. Tanaman padi menjadi komoditas yang paling rentan apabila kemarau berlangsung panjang karena membutuhkan pasokan air lebih banyak. Sementara itu, tembakau dan sebagian besar tanaman palawija relatif lebih tahan terhadap kondisi kering.
“Kalau untuk padi yang memang butuh air banyak, itu yang nanti paling berisiko. Tetapi untuk tembakau dan sejenisnya, kebutuhan air pada bulan pertama dan kedua tidak terlalu besar sehingga relatif lebih kuat,” ungkapnya.
Selain mengoptimalkan fungsi embung, pemerintah juga terus melakukan berbagai upaya untuk mendukung ketahanan sektor pertanian saat musim kemarau. Di antaranya melalui bantuan sumur, pengembangan jaringan irigasi, serta program pendukung lainnya.
“Intervensi seperti bantuan sumur dalam, pembangunan irigasi, dan program lainnya kami harapkan dapat membantu petani menghadapi musim kemarau,” tambah Agus.
Ia menambahkan, sejumlah wilayah perlu mendapat perhatian lebih karena memiliki keterbatasan sumber air, antara lain Kecamatan Pancur, Sulang, dan Bulu. Sementara Kecamatan Kaliori dan Sumber dinilai relatif lebih terbantu dengan keberadaan sumber-sumber air yang masih tersedia.
“Kalau kemarau hampir merata di Rembang. Hanya saja Kaliori dan Sumber sudah cukup banyak memiliki sumber air. Sedangkan Pancur, Sulang, dan Bulu harus benar-benar memperhatikan ketersediaan air sebelum menanam,” pungkasnya. (re/rd/kominfo)
