Pemerintah Kabupaten Rembang terus mengoptimalkan berbagai sarana pengairan untuk menjaga keberlangsungan produksi pertanian di tengah kondisi kemarau. Salah satunya melalui pemanfaatan bantuan irigasi pompa (irpom) yang dialokasikan pemerintah pusat untuk mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan sebagian besar bantuan irigasi pompa dan sarana pengairan lainnya berasal dari pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, berbagai bantuan tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi terhadap keterbatasan air yang dihadapi petani, terutama pada musim tanam kedua (MT II) dan musim tanam ketiga (MT III).
“Pemerintah pusat mengantisipasi kondisi kekeringan ini dengan berbagai bantuan kegiatan fisik terkait pengairan. Ada yang berupa bendung, sumur air tanah, long storage, parit, embung, termasuk irigasi pompa,” ujarnya, Senin (31/8).
Agus menjelaskan, irigasi pompa membantu petani memanfaatkan sumber air yang masih tersedia untuk mengairi lahan ketika curah hujan menurun. Keberadaan sarana tersebut diharapkan dapat memperpanjang ketersediaan air sehingga tanaman tetap dapat bertahan selama musim kemarau.
“Semua ini kita optimalkan. Harapan kami saat MT II dan MT III, yang biasanya di Rembang sangat sulit air, tersedia tandon dan sumber-sumber air di banyak tempat sehingga minimal bisa menyelamatkan tanaman MT II, syukur-syukur dapat menambah luas tanam MT III,” katanya.
“Kalau satuan paket irpom hampir 200 paket. Kalau sumurnya sekitar 150, dua titik saja hampir 300 unit irpom,” jelasnya.
Menurut Agus, keberadaan berbagai sarana pengairan tersebut menjadi penting karena Kabupaten Rembang telah memasuki musim tanam ketiga. Pada periode ini, luas tambah tanam mulai mengalami penurunan seiring semakin terbatasnya ketersediaan air.
Meski demikian, masih terdapat sekitar 4.000 hektare tanaman yang bertahan di lapangan (standing crop).
“Kalau tambah tanamnya sudah mulai menurun. Biasanya satu bulan kita paling kurang di angka 1.000 hektare, mungkin ini untuk tambah tanamnya. Tapi untuk standing crop, tanaman yang masih ada sampai saat ini kisaran sekitar 4.000-an hektare,” terangnya.
Persiapan Memasuki MT I
Agus menambahkan, setelah masa panen tembakau selesai, petani akan mulai mempersiapkan musim tanam pertama (MT I) yang diperkirakan berlangsung pada November hingga Desember mendatang.
Persiapan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan siklus produksi pertanian sekaligus memastikan petani dapat kembali memanfaatkan lahan secara optimal pada musim tanam berikutnya.
Melalui optimalisasi irigasi pompa serta berbagai infrastruktur pengairan lainnya, Pemkab Rembang terus berupaya menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian. Langkah tersebut diharapkan mampu membantu petani menghadapi keterbatasan air selama musim kemarau sekaligus menjaga produktivitas pertanian daerah. (re/rd/kominfo)
