Pemerintah Kabupaten Rembang

Inovasi Terasi Oven Kemasan Antar UMKM Sidowayah Menembus Pasar Internasional

Produk Terasi Oven Alyssa asal Desa Sidowayah, Kecamatan Rembang, berhasil mengangkat nama daerah hingga ke pasar internasional. Terasi kemasan hasil olahan industri rumahan tersebut kini telah dipasarkan ke sejumlah negara di Asia dan Timur Tengah setelah melalui perjalanan panjang inovasi dan pemasaran dari mulut ke mulut.

Produsen Terasi Oven Alyssa, Dian Nurshintorini, mengatakan ide mengembangkan terasi kemasan muncul dari pengalaman pribadinya saat kuliah di Universitas Diponegoro Semarang pada awal tahun 2000-an. Saat itu ia kerap membawa terasi dari Rembang untuk dijual kepada teman-teman kos guna membantu biaya hidup selama kuliah.

Namun, aroma terasi yang menyengat sering kali menjadi kendala. Bahkan, ia beberapa kali ditegur sopir bus dan penumpang karena bau terasi yang dibawanya.

“Dulu saya bawa terasi dari Rembang ke Semarang untuk dijual. Sudah saya bungkus pakai koran, plastik, bahkan diberi kopi supaya tidak bau, tapi tetap saja dimarahi sopir bus dan penumpang. Dari situ saya berpikir bagaimana caranya supaya terasi bisa dibawa ke mana-mana tanpa mengganggu orang lain,” ujarnya, Senin (8/6).

Berangkat dari pengalaman tersebut, Dian mulai melakukan inovasi dengan mengoven terasi agar lebih kering, tahan lama, tidak berjamur, dan aroma menyengatnya berkurang. Produk kemudian dikemas dalam wadah kecil yang praktis dibawa bepergian.

“Awalnya terasi itu biasanya diiris lalu digoreng atau disangrai sebelum digunakan. Saya coba oven sampai kering, ternyata lebih awet dan tidak mudah berjamur. Kemudian saya kemas dalam toples kecil dan disegel sehingga lebih praktis,” katanya.

Inovasi itu perlahan mendapat sambutan positif. Setelah menikah dan tinggal di Tangerang Selatan pada 2012, Dian mulai memperkenalkan terasi kemasannya kepada tetangga dan komunitas ibu-ibu. Respons yang diterima cukup baik hingga pesanan terus berdatangan.

Seiring berkembangnya media sosial, pemasaran dilakukan melalui Facebook, WhatsApp, dan Instagram. Pada masa pandemi Covid-19, Dian semakin serius mengembangkan usahanya dengan mengurus berbagai perizinan seperti PIRT, sertifikasi halal, Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga hak merek dagang.

“Waktu pandemi saya fokus mengurus legalitas usaha. Banyak konsumen yang menanyakan izin usaha dan sertifikasi halal. Akhirnya saya lengkapi semuanya supaya lebih dipercaya,” tuturnya.

Kesempatan menembus pasar luar negeri datang pada 2021. Melalui kakaknya yang bertugas di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong, Dian mengirimkan sejumlah sampel produk untuk diperkenalkan kepada warga Indonesia di sana.

“Saya titip sampel ke Hong Kong. Ternyata banyak yang suka karena di sana sulit mencari terasi seperti dari Rembang. Dari situ mulai ada pesanan dari luar negeri,” ungkapnya.

Selain Hong Kong, produk Terasi Oven Alyssa juga dikirim ke Qatar melalui jaringan teman yang bekerja di perusahaan migas. Menurut Dian, banyak warga Indonesia di luar negeri yang merindukan cita rasa sambal khas Nusantara sehingga tertarik dengan produk terasi asal Rembang tersebut.

“Teman saya yang kerja di Qatar bilang di sana hampir tidak ada yang jual terasi. Setelah mencoba, mereka minta dikirim lagi. Awalnya memang dari jaringan teman-teman sendiri,” katanya.

Tak hanya melayani pengiriman skala kecil ke luar negeri, pada Mei 2025 Dian juga mengikuti penjajakan ekspor ke Afrika melalui kegiatan yang melibatkan perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia dan calon pembeli dari Kenya. Dalam forum tersebut, ia memperkenalkan berbagai produk hasil laut Rembang, termasuk terasi.

Meski peluang ekspor terbuka, hingga kini pengiriman dalam skala besar masih terkendala sistem pembayaran dari calon pembeli. Menurut Dian, sebagian buyer meminta barang dikirim terlebih dahulu tanpa uang muka.

“Kendalanya mencari buyer yang benar-benar serius. Kami harus hati-hati karena ada yang meminta barang dikirim dulu tanpa DP. Kalau untuk ekspor, minimal harus ada pembayaran di muka agar lebih aman,” jelasnya.

Saat ini Terasi Oven Alyssa dipasarkan secara online maupun offline melalui toko oleh-oleh dan jaringan reseller. Produksi harian berkisar 50 hingga 100 botol dengan harga Rp20 ribu per botol. Permintaan biasanya meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat menjelang Idulfitri dan Tahun Baru.

Dian berharap produk terasi khas Rembang semakin dikenal luas dan mampu menjadi salah satu komoditas unggulan daerah yang dapat bersaing di pasar global.

“Rembang punya hasil laut yang melimpah. Harapan saya terasi khas Rembang bisa semakin dikenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri,” ucapnya.

Sementara itu, Sub Koordinator Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Darmuji, menyebut produk tersebut merupakan salah satu pelaku usaha terasi yang telah berkembang dengan kemasan modern di Rembang.

Menurutnya, berdasarkan data Dinbudpar, pelaku usaha terasi yang aktif mengembangkan produk kemasan modern masih sangat terbatas. Selain Terasi Oven Alyssa milik Dian Nurshintorini, terdapat satu produsen lain di Desa Tasikagung yang juga mengolah produk serupa.

“Kalau berdasarkan data kami, produsen terasi yang menonjol saat ini masih Mbak Dian dengan Terasi Alyssa dan satu lagi di Tasikagung. Dari sisi kemasan, produk Alyssa sudah lebih modern dan memiliki nilai jual yang baik,” ujar Darmuji.

Ia mengungkapkan, sebenarnya peluang pasar luar negeri untuk produk terasi asal Rembang cukup besar. Bahkan, sudah ada sejumlah permintaan dari luar negeri, termasuk dari Jerman dan negara-negara di Afrika. Namun, pesanan tersebut umumnya meminta pasokan dalam jumlah besar sehingga kapasitas produksi pelaku usaha masih menjadi kendala.

“Sebenarnya sudah ada permintaan dari luar negeri. Pernah ada penawaran dari Jerman dan Afrika, tetapi permintaannya dalam partai besar hingga beberapa ton. Sementara kapasitas produksi UMKM masih belum mencukupi jika harus memenuhi sendiri,” jelasnya.

Darmuji menambahkan, selama ini produk Terasi Oven Alyssa juga telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya. Selain itu, sebagian produk yang sampai ke luar negeri umumnya melalui jaringan reseller yang membeli dari produsen di Rembang.

Sebagai bentuk dukungan, Dinbudpar telah memfasilitasi pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk merek Terasi Oven Alyssa. Selain itu, pemerintah daerah juga memberikan pelatihan digital branding dan digital marketing guna memperluas jangkauan pemasaran produk UMKM.

“Kami sudah membantu pengurusan HAKI sehingga merek Alyssa memiliki perlindungan hukum. Selain itu juga ada pelatihan digital branding dan digital marketing. Ke depan kami akan terus melakukan pendampingan agar produk ini semakin berkembang,” pungkasnya. (re/rd/kominfo)

 

Exit mobile version