Di sebuah ruang tengah yang tampak sederhana di Museum Raden Ayu (RA) Kartini, berdiri sebuah meja kayu yang bagi sebagian orang mungkin tak lebih dari perabot biasa. Namun, di balik permukaannya yang tenang, tersimpan kisah hangat tentang kebersamaan, nilai keluarga, dan pemikiran mendalam dari RA Kartini.
Subkoordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang, Retna Dyah Radityawati, menuturkan bahwa setiap benda di museum tersebut memiliki cerita unik. Salah satunya adalah meja di ruang keluarga yang kerap luput dari perhatian pengunjung.
Mungkin bagi sebagian orang kayak meja biasa, tetapi di situ juga mengandung makna bahwa di meja tersebut itu keluarga Joyodiningrat sendiri itu ternyata kalau berkumpul bukan di waktu malam atau pagi,” jelasnya, Kamis (16/4).
Ia menjelaskan, momen kebersamaan keluarga Kartini berlangsung pada sore hari. Setelah Raden Adipati Joyodiningrat menyelesaikan pekerjaannya dan membersihkan diri, mereka akan berkumpul di meja tersebut sambil menikmati teh.
“Sore setelah Pak Joyodiningrat ini selesai bekerja, selesai mengajar, terus beliau itu mandi, nanti baru sekitar jam 4-an beliau itu duduk bareng dengan RA Kartini sambil minum teh,” terangnya.
Menariknya, tradisi minum teh tersebut sebenarnya merupakan pengaruh budaya Belanda. Namun, keluarga Kartini memberi sentuhan lokal dengan menambahkan kapulaga ke dalam seduhan teh mereka.
“Kapulaga itu mungkin dulu didapat dari apotek hidup yang ditanam di pekarangan,” tambahnya.
Lebih dari sekadar tempat berkumpul, meja tersebut juga mencerminkan sisi estetika dan filosofi Kartini. Perempuan yang akrab disapa Nana ini menyebut, meja itu didesain langsung oleh Kartini dengan detail yang sarat makna. Di sekelilingnya terdapat enam kursi, lima di antaranya dihiasi tokoh wayang Pandawa Lima, sementara satu kursi lainnya menampilkan sosok Kresna.
“Pandawa Lima itu melambangkan keluarga yang solid. Kartini ingin menunjukkan bahwa keluarga harus kuat dan bersatu,” jelas Retna.
Sementara kehadiran Kresna, tokoh bijaksana yang dikenal sebagai penengah dalam konflik, menjadi simbol kebijaksanaan dan keberpihakan pada kebenaran.
Bagi lNana, keberadaan meja ini bukan sekadar artefak, melainkan representasi pemikiran Kartini yang jauh melampaui zamannya.
Ia melihat bagaimana Kartini tidak hanya memperjuangkan emansipasi perempuan melalui tulisan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan dalam ruang domestik.
“Dari hal sederhana seperti meja dan kursi, kita bisa melihat bagaimana Kartini memaknai keluarga, kebersamaan, dan filosofi hidup. Itu yang kadang tidak disadari oleh pengunjung,” ujarnya.
Di momen peringatan Hari Kartini, kisah tentang meja ini menjadi pengingat bahwa semangat Kartini tidak hanya hidup dalam buku dan pidato, tetapi juga dalam detail keseharian yang sarat makna. Sebuah meja, secangkir teh, dan percakapan sore hari menjadi saksi bisu lahirnya gagasan besar dari seorang perempuan yang mengubah sejarah. (re/rd/kominfo)
