Persentase kemantapan jalan di Kabupaten Rembang saat ini mencapai 71,17 persen. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan pemerintah pusat dalam menilai kebutuhan bantuan pembangunan infrastruktur daerah.
Kepala DPUTARU Kabupaten Rembang, Maryosa, menyebut tingkat kemantapan jalan di Kabupaten Rembang masih berada pada angka 71,17 persen. Dengan rincian kondisi baik 42,5 persen, sedang 28,8 persen, rusak ringan 12,4 persen dan Rusak Berat 16,3 persen.
Persentase tersebut dihitung berdasarkan total panjang jalan kabupaten sekitar 594 kilometer ditambah jalan poros desa sepanjang 259 kilometer. Menurutnya, capaian tersebut justru menjadi peluang bagi daerah untuk memperoleh dukungan anggaran dari pemerintah pusat.
“Sebelum program Inpres Jalan Daerah, jalan mantap kita berada di angka 71,17 persen. Kalau daerah sudah mencapai 90 persen seperti kota-kota besar, biasanya bantuan dari pusat justru lebih sedikit karena dianggap sudah baik,” jelasnya, Jumat (17/7).
Maryosa menegaskan, Pemerintah Kabupaten Rembang terus berupaya meningkatkan kualitas jaringan jalan secara bertahap melalui sinergi pendanaan dari APBD maupun pemerintah pusat.
“Kita sesuaikan antara kondisi jalan dan kemampuan anggaran yang ada agar pembangunan tetap berjalan berkelanjutan,” imbuhnya.
Ia menyebut sejumlah pekerjaan yang telah terealisasi melalui Program Inpres Jalan Daerah (IJD), antara lain pelebaran ruas Sulang–Krikilan, rekonstruksi jalan Tireman–Japerejo, serta preservasi ruas Landoh–Seren.
Di sisi lain, DPUTARU juga mengalokasikan anggaran pemeliharaan rutin jalan sebesar Rp12 miliar pada tahun ini. Anggaran tersebut terdiri atas Rp10 miliar dari APBD induk dan Rp2 miliar dari pergeseran anggaran.
“Kami memiliki anggaran pemeliharaan rutin jalan sekitar Rp12 miliar. Saat ini sudah berproses untuk penanganan jalan sepanjang 31,303 kilometer,” kata Maryosa.
Selain pemeliharaan rutin, DPUTARU memperoleh Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk peningkatan ruas jalan Leran–Kajar–Kepohagung sepanjang sekitar 1,3 kilometer dengan nilai anggaran lebih dari Rp2 miliar. Ruas Banyuurip–Gunem juga akan segera dikerjakan setelah proses kontrak selesai.
Maryosa menambahkan, percepatan pelaksanaan proyek fisik menjadi salah satu fokus agar pekerjaan dapat selesai tepat waktu dan tidak menumpuk pada akhir tahun anggaran.
“Program fisik kami dorong supaya berada di depan semua. Jadi pekerjaan besar-besar segera dimulai sehingga tidak menumpuk di akhir tahun,” pungkasnya. (re/rd/kominfo)
