Pemerintah Kabupaten Rembang

Menata Ulang Jejak Kartini di Rembang, dari Surat Menjadi Taman Inspirasi

Di sebuah sudut Museum Raden Ayu (RA) Kartini, jejak masa lalu perlahan dihidupkan kembali. Bukan melalui benda-benda kuno semata, melainkan lewat hamparan taman yang kini mulai kembali hijau. Taman itu bukan sekadar ruang terbuka, tetapi potongan cerita dari kehidupan Kartini saat tinggal di Rembang lebih dari seabad lalu.

Kisahnya berawal dari sebuah surat yang ditulis Kartini pada Desember 1903. Dalam surat itu, ia mencurahkan kebahagiaannya setelah menjadi Raden Ayu. Ia bercerita tentang rumahnya yang indah, lengkap dengan taman tempat ia memetik bunga setiap hari.

Namun waktu telah mengubah banyak hal. Taman yang dulu digambarkan Kartini, lama terbengkalai. Tanahnya kering, vegetasi nyaris tak tersisa. Baru pada 2025, taman itu mulai mendapatkan sentuhan melalui program revitalisasi yang digagas oleh Djarum Foundation, lembaga yang dikenal aktif dalam pelestarian lingkungan.

Subkoordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang, Retna Dyah Radityawati, menjelaskan bahwa ide revitalisasi taman berangkat dari cerita Kartini dalam suratnya kepada sahabatnya. Dalam surat itu, Kartini menggambarkan kebahagiaannya setelah menjadi Raden Ayu dan tinggal di rumah dengan taman yang indah.

“Di bulan Desember 1903, sewaktu beliau sudah berada di Rembang, beliau menceritakan surat tersebut ditujukan kepada sahabatnya. Di mana beliau bercerita bahwa beliau sudah menjadi seorang Raden Ayu. ‘Alangkah bahagianya saya dan pasti Ibu juga akan pangling melihat saya sebagai Raden Ayu. Saya di sini sangat bahagia, punya rumah yang sangat indah dengan taman yang setiap hari saya memetik bunga untuk menghiasi rumah,’” ujar Retna, Rabu (15/4).

Dari kisah tersebut, pihak museum kemudian berinisiatif merekonstruksi taman yang sempat terbengkalai agar kembali menyerupai kondisi pada masa Kartini tinggal di Rembang. Konsep taman tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi alami tanaman sebagai sumber aroma terapi.

“Taman itu kan sudah lama terbengkalai dan tidak seperti yang diceritakan oleh RA Kartini. Maka dari itu saya membuat rekonstruksi ulang dari ceritanya untuk merevitalisasi atau menghidupkan kembali taman itu seperti pada saat beliau berada di Rembang,” jelasnya.

Upaya tersebut kemudian mendapat dukungan dari Djarum Foundation yang tertarik dengan konsep pelestarian berbasis lingkungan. Retna menyebut, Museum RA Kartini menjadi pionir karena selama ini program penghijauan dari Djarum Foundation lebih banyak menyasar kawasan candi.

“Museum RA Kartini ini bisa disebut sebagai pionir, karena selama ini Djarum Foundation lebih banyak menangani situs seperti candi, misalnya Candi Prambanan dan beberapa candi di wilayah Jawa Tengah. Sementara untuk museum, ini yang pertama,” ungkapnya.

Selain menghadirkan taman bunga seperti yang disebutkan dalam surat Kartini di antaranya melati, mawar Perancis, dan lili Paris, revitalisasi juga dilengkapi dengan konsep “apotek hidup”. Hal ini diadaptasi dari budaya rumah Jawa yang umumnya memiliki tanaman obat di pekarangan.

“Memang apotek hidup tidak disebutkan dalam suratnya, tetapi kami menarik benang merah dari konsep rumah Jawa yang biasanya memiliki tanaman di pekarangan. Apalagi resep khas Putri Jepara juga banyak menggunakan tanaman seperti kapulaga dan jahe,” tambah Retna.

Meski menghadapi tantangan kondisi tanah yang cenderung tandus, pihaknya optimistis taman dapat tumbuh dengan baik berkat pendampingan intensif dari tim Djarum Foundation. Bahkan, setelah proses penanaman selesai, masih ada masa pemeliharaan hingga saat ini untuk memastikan tanaman dapat beradaptasi.

Di tengah upaya pelestarian sejarah, taman ini menghadirkan cara baru untuk mengenang Kartini bukan hanya sebagai tokoh emansipasi, tetapi juga sebagai perempuan yang menemukan kebahagiaan sederhana dari bunga yang dipetiknya sendiri, dari alam yang mengelilinginya. (re/rd/kominfo)

Exit mobile version