Pemerintah Kabupaten Rembang mematangkan persiapan Lomba Thong-Thong Lek 2026 dengan konsep yang lebih tertata, menyusul tingginya antusiasme masyarakat pada pelaksanaan tahun sebelumnya. Event tradisi khas Ramadan ini diharapkan kembali menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus memperkuat kebersamaan warga.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Prapto Raharjo, menjelaskan bahwa berbagai persiapan telah dilakukan melalui rapat koordinasi lintas pihak. Evaluasi dari pelaksanaan sebelumnya menjadi dasar untuk menghadirkan penyelenggaraan yang lebih matang, baik dari sisi teknis, alur peserta, hingga kenyamanan penonton.
“Masih sama seperti tahun yang dulu, hanya kita ingin kemas agak berbeda lagi. Kalau aturan-aturannya sama,” ujarnya, Selasa (24/2).
Lomba Thong-Thong Lek dijadwalkan berlangsung pada Selasa malam, 17 Maret 2026, atau sekitar tiga hingga empat hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Rute parade dimulai dari Perempatan Zaini, dengan peserta mengantre ke arah barat, dan berakhir di Gedung Haji sebagai titik finish. Sementara itu, panggung utama akan difungsikan sebagai pusat kegiatan sekaligus lokasi penilaian oleh dewan juri.
Untuk menjaga kualitas pertunjukan serta kelancaran arus lalu lintas, panitia memberlakukan sejumlah pembatasan. Jumlah peserta dibatasi hanya 25 kelompok, sehingga setiap penampilan dapat tampil maksimal tanpa menimbulkan kepadatan berlebih. Selain itu, peserta hanya diperbolehkan menggunakan kendaraan jenis L300 atau sejenisnya.
Panitia juga secara tegas melarang penggunaan kendaraan berukuran besar seperti truk tronton dalam parade. Kebijakan ini diambil guna menghindari gangguan teknis di sepanjang rute serta memastikan keselamatan seluruh peserta dan penonton.
“Kita masih yang tradisional. Kemudian, kendaraan yang digunakan juga bukan yang pakai tronton,” ucapnya.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia telah menyiapkan berbagai penghargaan dan nominasi bagi kelompok terbaik. Penilaian akan mencakup aspek kreativitas, kekompakan, hingga kekhasan penampilan yang mencerminkan identitas budaya lokal.
“Kita ingin thong-thong lek ini benar-benar menjadi kebanggaan Rembang. Tradisinya hidup, masyarakatnya guyub, dan generasi muda ikut melestarikan,” pungkas Prapto. (re/rd/kominfo)
