Pemerintah Kabupaten Rembang terus mendorong pengembangan komoditas tebu sebagai salah satu sektor unggulan pertanian daerah. Berbagai program peningkatan produktivitas terus dilakukan untuk memperkuat daya saing petani sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, menyampaikan luas areal tebu di Kabupaten Rembang saat ini mencapai sekitar 6.800 hektare untuk produksi gula kristal dan sekitar 1.900 hektare untuk produksi gula tumbu.
Untuk meningkatkan hasil produksi, pada tahun 2026 Pemkab Rembang melanjutkan program bongkar ratun. Program tersebut dilakukan dengan mengganti tanaman tebu yang sudah menurun produktivitasnya dengan bibit baru yang memiliki potensi hasil lebih tinggi.
“Tahun 2025 lalu kegiatan bongkar ratun mencapai 2.045 hektare. Sebelumnya produktivitas rata-rata hanya sekitar 50 sampai 60 ton per hektare,” ujar Agus, Kamis (9/7).
Melalui program tersebut, produktivitas tebu diharapkan meningkat secara signifikan. Pemkab Rembang menargetkan produktivitas mencapai 80 hingga 90 ton per hektare dengan rendemen sekitar 7,5 persen.
Menurut Agus, peningkatan produktivitas menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Kabupaten Rembang sebagai salah satu daerah penghasil tebu di Jawa Tengah. Dengan hasil panen yang lebih tinggi, pendapatan petani juga diharapkan semakin meningkat.
Meski demikian, pengembangan tebu masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya keterbatasan alat dan mesin pertanian. Kebutuhan traktor roda empat (TR4) masih cukup tinggi untuk mendukung pengolahan lahan secara lebih efektif dan efisien.
“Kami mengusulkan tambahan bantuan TR4 karena kebutuhan petani masih cukup tinggi untuk mendukung pengembangan tebu di Rembang,” katanya.
Melalui dukungan program budidaya dan penguatan sarana pertanian, Pemkab Rembang optimistis produktivitas tebu akan terus meningkat sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi sektor pertanian dan perekonomian daerah. (re/rd/kominfo)
