Kabupaten Rembang mulai memasuki panen raya padi Masa Tanam (MT) pertama 2024. Puncak panen diperkirakan terjadi pada Maret 2025, dengan luasan panen yang lebih besar dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan panen raya pada Februari 2025 ini tersebar di sejumlah wilayah, terutama Kecamatan Kaliori, Sumber, dan Kecamatan Rembang.
“Untuk Februari ini luas panen sekitar 5.000 hektare. Yang di bulan Maret hampir 14.000 hektare, itu puncak panen. Di April masih ada sisa sekitar 5.000 hektare lagi,” jelas Agus, Kamis (13/2).
Ia menambahkan, wilayah Rembang bagian timur seperti Kecamatan Sale tidak mengenal istilah panen raya. Hal tersebut karena hampir setiap bulan selalu terjadi panen padi, meski dengan volume yang tidak terlalu besar.
“Di Rembang timur sawahnya ditopang irigasi teknis, sehingga petani bisa panen sepanjang tahun,” ujarnya.
Untuk menjaga agar harga gabah petani tidak jatuh saat panen raya, Dintanpan bekerja sama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam penyerapan gabah petani. Bulog, kata Agus, menyerap gabah tanpa persyaratan khusus.
“Kondisi gabah apapun akan dibeli Bulog dengan harga minimal Rp6.500 per kilogram,” tegasnya.
Meski demikian, Agus mengakui masih terdapat kendala dalam proses penyerapan gabah, terutama pada padi yang telah roboh cukup lama sebelum masa panen.
Ia menjelaskan, robohnya tanaman padi dapat dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya kondisi cuaca ekstrem seperti hujan disertai angin kencang, jarak tanam yang terlalu rapat, serta penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan. (Mif/RD/Kominfo)
