Rembang Expo 2026 tidak hanya mencatat perputaran ekonomi yang tinggi, tetapi juga menunjukkan meningkatnya daya saing pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Sejumlah UMKM Rembang mulai mampu mengimbangi pendapatan pedagang dari luar daerah yang selama ini mendominasi ajang pameran dan perdagangan.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Rembang, M. Mahfudz, menyebut secara keseluruhan perputaran ekonomi pada Rembang Expo tahun ini lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai sekitar Rp 4,5 Miliar. Angka tersebut bahkan belum termasuk transaksi dari wahana dinosaurus yang rata-rata menjual sekitar 2.000 hingga 3.000 tiket per hari dengan harga tiket Rp20 ribu.
“Selama kegiatan Rembang Expo itu rata-rata perputaran uang setiap harinya sekitar Rp450 juta,” kata Mahfudz, Senin (18/8).
Menurutnya, angka tersebut berasal dari transaksi para pelaku usaha yang mengisi stan Expo. Pedagang dari luar daerah rata-rata mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta per hari.
Sementara itu, omzet UMKM lokal Rembang bervariasi. Rata-rata berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp3 juta per hari, meski terdapat sejumlah pelaku usaha yang mampu mencatat pendapatan lebih tinggi.
“Kalau yang kecil-kecil itu hampir Rp1 juta sampai Rp2,5 juta-Rp3 juta untuk UMKM lokal. Ada juga yang melebihi, seperti yang jual dimsum,” jelasnya.
Di balik perbedaan rata-rata omzet tersebut, Mahfudz melihat perkembangan yang menggembirakan. Dari sekitar 60 UMKM lokal yang mengikuti Expo, sekitar 20 pelaku usaha sudah mampu mencatat pendapatan yang hampir setara dengan pedagang dari luar daerah.
“Dari sekitar 60-an UMKM lokal itu, sekitar 20 yang sudah mampu mengimbangi. Pendapatannya hampir sama dengan UMKM dari luar daerah,” ungkapnya.
Menurut Mahfudz, capaian tersebut menjadi indikator bahwa kualitas dan daya tarik produk UMKM Rembang mulai meningkat. Produk-produk lokal tertentu bahkan mampu bersaing secara langsung dengan pelaku usaha yang telah lebih dahulu memiliki pasar yang lebih luas.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan bagi sebagian UMKM lokal yang omzetnya belum setara dengan pedagang luar daerah. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah jenis produk yang ditawarkan kepada pengunjung.
“Yang paling diminati itu menu-menu makanan, terutama makanan kekinian. Sementara produk seperti olahan ikan atau olahan yang dikemas masih terbatas peminatnya,” katanya.
Mahfudz menilai pengalaman mengikuti Expo dapat menjadi sarana belajar bagi UMKM lokal untuk memahami tren pasar sekaligus meningkatkan kualitas produk dan strategi pemasaran.
Ia mendorong pelaku UMKM Rembang agar lebih percaya diri mengikuti berbagai pameran di luar daerah sehingga mampu memperluas pasar dan memperkenalkan produk lokal ke wilayah yang lebih luas.
“UMKM lokal harus mampu bersaing, berani keluar. Jangan hanya di Rembang saja mengisi stan. Kalau ada Expo di Blora, Pati atau daerah lain, kami berharap UMKM lokal berani menjual produknya dan berani bersaing,” tegasnya.
Mahfudz menambahkan, kemampuan bersaing di luar daerah akan menjadi langkah penting untuk meningkatkan omzet sekaligus memperkuat posisi produk UMKM Rembang di pasar yang lebih luas.
Ke depan, Pemkab Rembang berharap Rembang Expo dapat terus menjadi ajang penguatan ekonomi daerah sekaligus wadah bagi UMKM lokal untuk meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan pasar.
“Harapannya tahun depan bisa dilaksanakan lagi dengan penyempurnaan, baik dari sisi kebaikan maupun kekurangan yang ada tahun ini,” pungkas Mahfudz.
