Berita
Lontong Tuyuhan, Kuliner Khas Rembang Yang Harus Anda Coba
- 30 Maret 2025
- Posted by: Redaksi
- Category: Berita Pemerintah
Momen berkumpul bersama keluarga saat Hari Raya Idulfitri terasa kurang lengkap tanpa sajian kuliner khas. Di Kabupaten Rembang, salah satu hidangan yang selalu dinantikan kehadirannya adalah Lontong Tuyuhan.
Berbeda dengan opor pada umumnya, Lontong Tuyuhan memiliki cita rasa gurih dan sedikit pedas yang khas. Racikan bumbu seperti kemiri, jintan, dan bawang menciptakan perpaduan rasa yang kuat dan menggugah selera. Tak heran, banyak orang mengaku ketagihan menyantap hidangan tradisional ini.
Keunikan lainnya terletak pada bentuk lontongnya yang segitiga dengan ukuran cukup besar untuk satu porsi. Penyajiannya biasanya dilengkapi opor ayam kampung, tempe rebus, serta jeroan, yang semakin menambah kekayaan rasa.
Umar, salah satu pedagang Lontong Tuyuhan, mengaku permintaan meningkat tajam saat Lebaran. Ia bisa memproduksi hingga 5.000 buah lontong dan tiga bakul besar sayur opor setiap hari.
“Kalau hari biasa tidak sebanyak itu. Saat Lebaran, jumlah segitu kadang masih kurang karena banyak pembeli yang datang,” ujar Umar saat melayani pembeli, Minggu (30/3/2025).
Selama masa Lebaran, Umar membuka lapaknya sejak pagi hingga pukul 18.00 WIB. Menurutnya, puncak keramaian terjadi pada malam takbiran hingga usai Salat Id.
Untuk harga, menu Lontong Tuyuhan bervariasi. Paket lontong dengan ayam dibanderol sekitar Rp27.500. Jika ditambah tempe atau tahu menjadi Rp29.000, sedangkan opor ayam saja dijual sekitar Rp21.500. Dari penjualan tersebut, omzet yang diperoleh saat momentum Lebaran bisa meningkat signifikan.
Nama Lontong Tuyuhan sendiri diambil dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang. Lokasinya dikenal berada tak jauh dari gapura masuk desa tersebut, yang kini identik sebagai sentra kuliner khas ini.
Tak hanya soal rasa, Lontong Tuyuhan juga sarat makna filosofis. Husein, warga setempat, menjelaskan bentuk segitiga pada lontong melambangkan tiga prinsip penting dalam kehidupan: budaya atau sejarah, agama, dan pendidikan.
“Bentuk segitiga itu menggambarkan tiga hal yang menjadi pegangan hidup, yaitu budaya, agama, dan pendidikan,” ungkapnya.
Masyarakat Desa Tuyuhan meyakini, nilai-nilai tersebut harus berjalan seimbang dalam kehidupan, sebagaimana bentuk lontong yang sederhana namun penuh makna.
Dengan kelezatan rasa dan nilai budaya yang melekat, Lontong Tuyuhan tak sekadar kuliner, tetapi juga bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Rembang saat merayakan Idulfitri. (Mif/RD/Kominfo)