Berita
Desa Tangguh Bencana Tingkatkan Kemandirian Warga dalam Penanganan Bencana di Tingkat Lokal
- 19 Januari 2026
- Posted by: Redaksi
- Category: Berita Pemerintah
Keberadaan Desa Tangguh Bencana (Destana) terbukti memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan penanganan bencana secara mandiri di tingkat desa. Program ini memperkuat kapasitas warga dalam mengenali potensi bencana, merespons kejadian secara cepat, serta melakukan pengurangan risiko secara berkesinambungan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang, Sri Jarwati, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (19/1/2026), menyampaikan bahwa desa-desa yang telah terbentuk sebagai Destana menunjukkan perkembangan positif dari aspek kesadaran risiko hingga tindakan mitigasi awal.
“Alhamdulillah, desa yang telah membentuk Destana mampu menangani kejadian bencana secara mandiri. Warga langsung melakukan kerja bakti dan langkah awal penanganan sebelum melaporkan kepada kami. Ini menunjukkan kapasitas dan kepedulian masyarakat semakin kuat,” ujar Sri Jarwati.
Program Destana di Kabupaten Rembang dimulai pada tahun 2018 dengan sasaran pertama Desa Bendo, Kecamatan Sluke. Pada 2020, BPBD Provinsi Jawa Tengah memperluas cakupan dengan membentuk Destana di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Bulu.
Pada 2022, BPBD menetapkan 12 desa sebagai sasaran Destana, meliputi Desa Dowan (Kecamatan Gunem), Desa Bitingan (Sale), Desa Johogunung (Pancur), Desa Manggar (Sluke), dan Desa Lemah Putih (Sedan). Selain itu, tiga desa di Kecamatan Sumber yakni Desa Ronggomulyo, Kedungtulup, dan Sekarsari, serta empat desa di Kecamatan Kaliori yaitu Desa Kuangsan, Maguan, Wiroto, dan Meteseh.
Pada 2023, kembali terbentuk 12 desa Destana. Dua desa dibentuk langsung oleh BPBD Kabupaten Rembang, yaitu Desa Criwik dan Banyuurip di Kecamatan Pancur. Sepuluh desa lainnya merupakan hasil kolaborasi BPBD Kabupaten dan Provinsi, meliputi desa-desa di Kecamatan Kaliori, Pancur, dan Sluke.
Pembentukan berlanjut pada 2024 melalui penetapan dua desa: Desa Dadapan (Sedan) dan Desa Sale (Sale). Sementara pada 2025, BPBD kembali menetapkan dua Destana baru, yakni Desa Leran di Kecamatan Sluke dan Desa Sendangmulyo di Kecamatan Lasem.
Selain itu, Desa Punjulharjo (Kecamatan Rembang) ditetapkan sebagai Destana Mandiri, karena pembentukan dilakukan langsung oleh pemerintah desa tanpa menunggu fasilitasi BPBD.
Sri Jarwati, atau akrab disapa Anjar, menegaskan bahwa percepatan pembentukan Destana menjadi prioritas dalam mendukung target 100 Destana sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Rembang.
Mengacu pada Kajian Risiko Bencana (KRB) Tahun 2025, terdapat 130 desa rawan bencana dari total 199 desa yang direkomendasikan untuk membentuk Destana secara mandiri pada tahun ini.
“Harapannya, semakin banyak desa yang tangguh, semakin kecil dampak bencana yang ditimbulkan. Kami mendorong kolaborasi pemerintah desa, relawan, dan masyarakat untuk membangun kesiapsiagaan dari tingkat lokal,” pungkasnya. (Mif/RD/Kominfo)