Berita
Kartini di Lapangan Hijau: Suci Indriani dan Peluit yang Mengubah Persepsi
- 15 April 2026
- Posted by: Redaksi
- Category: Berita Pemerintah
Semangat Hari Kartini tak hanya hidup di ruang-ruang domestik atau dunia usaha, tetapi juga menggema di lapangan hijau. Di Kabupaten Rembang, langkah berani perempuan mulai terlihat dalam dunia sepak bola yang selama ini didominasi laki-laki untuk menjadi wasit.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Suci Indriani, perempuan 22 tahun asal Desa Tireman. Di tengah riuhnya pertandingan antar kampung (tarkam) di Kota Garam, kehadirannya sebagai hakim garis menjadi pemandangan yang kini tak lagi asing. Dengan lisensi C3 yang dimilikinya, Suci perlahan menegaskan bahwa perempuan pun mampu berdiri tegas di tengah tensi pertandingan.
Ketertarikan Suci pada dunia perwasitan berangkat dari kecintaannya terhadap olahraga. Sebagai mahasiswi jurusan olahraga di Universitas Negeri Semarang, ia merasa jalur yang dipilihnya selangan passion yang dimiliki.
“Karena saya suka bermain sepak bola dan kuliah saya juga di bidang olahraga, jadi tertarik mendalami wasit, khususnya sepak bola,” ungkapnya.
Baginya, mengikuti kursus wasit bukan sekadar mendapatkan lisensi. Lebih dari itu, ia belajar memahami aturan permainan secara mendalam, sekaligus membentuk karakter. Latihan fisik yang intens, ketenangan dalam mengambil keputusan, hingga membangun rasa percaya diri menjadi bekal penting yang ia rasakan selama pelatihan.
Meski demikian, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Latihan fisik menjadi tantangan tersendiri baginya. Namun, selama tiga bulan menjalani pelatihan, Suci mampu meningkatkan stamina dan ketahanan tubuhnya.
Hasilnya kini terasa, saat ia aktif memimpin pertandingan tarkam di berbagai kecamatan sebagai asisten wasit.
Pengalaman paling berkesan datang ketika ia dipercaya menjadi bagian dari perangkat pertandingan dalam turnamen resmi, Piala Pertiwi di Semarang pada Maret 2022. Momen itu menjadi tonggak penting dalam perjalanan kariernya.
“Itu pengalaman pertama saya menjadi wasit di turnamen resmi,” kenangnya.
Ke depan, Suci tak ingin berhenti sampai di sini. Ia bertekad melanjutkan kursus untuk meraih lisensi C2 agar bisa memimpin pertandingan di tingkat provinsi. Tekad tersebut semakin kuat berkat dukungan keluarga yang selalu memberi semangat dalam setiap langkahnya.
Di tangan Suci Indriani, peluit wasit bukan sekadar alat pengatur permainan. Ia menjadi simbol keberanian untuk menembus batas, membuktikan bahwa perempuan juga mampu berdiri sejajar di lapangan mana pun. Sebuah refleksi nyata dari semangat Kartini masa kini berani, tangguh, dan terus melangkah maju. (Mif/RD/Kominfo)