Berita
Ketelatenan Muamluaturrahmah Menjahit Harapan Lewat Kerajinan Bros
- 14 April 2026
- Posted by: rendy
- Category: Berita Pemerintah
Semangat Hari Kartini tak selalu hadir dalam bentuk pidato atau seremoni. Di sudut sederhana Kabupaten Rembang, semangat itu hidup dalam tangan-tangan telaten seorang perempuan bernama Muamluaturrahmah.
Dari seutas pita, potongan kain flanel, hingga perca yang kerap dianggap tak berguna, ia merangkai nilai, kreativitas, sekaligus penghidupan.
Perjalanan Muamluaturrahmah dimulai sejak ia menjadi santriwati di Pesantren Raudhatut Thalibin sekitar tahun 2005. Selama kurang lebih sembilan tahun, ia tak hanya menimba ilmu agama, tetapi juga keterampilan hidup.
Di pesantren yang diasuh KH Mustofa Bisri (Gus Mus) itu, ia mendapatkan pelatihan membuat kerajinan tangan, mulai dari bros hingga teknik menyulam. Semangat belajarnya kala itu begitu besar. Hampir semua benda di sekitarnya menjadi media latihan.
“Sampai-sampai sarung bantal dan kerudung semua disulami saking semangatnya pengen bisa,” ucapnya.
Dari situ, kecintaannya terhadap dunia kerajinan tumbuh dan terus ia bawa hingga keluar dari lingkungan pesantren. Setelah lulus, bersama sang suami, Muamluaturrahmah mulai merintis usaha kecil-kecilan membuat bros.
Ilmu dasar yang ia peroleh di pondok ia kembangkan secara mandiri. Ia belajar dari video tutorial dan aktif mengikuti komunitas di media sosial. Dari sana, ide-ide baru bermunculan, memperkaya desain dan jenis produk yang ia hasilkan.
Kini, ia tak sekadar membuat bros biasa. Pesanan datang dari berbagai kalangan, mulai dari sekolah, majelis taklim, organisasi, hingga kelompok sosial lainnya. Bros dengan logo khusus menjadi produk unggulan yang banyak diminati.
“Yang banyak pesanan adalah resin logo yang nantinya ditempel pada bros,” ujarnya.
Bagi Muamluaturrahmah, kerajinan bukan sekadar pekerjaan, melainkan ekspresi diri. Ia meyakini bahwa perempuan memiliki naluri untuk memperindah sesuatu.
“Karena pada dasarnya perempuan suka berhias,” katanya.
Dari keyakinan itulah, ia terus menekuni usaha pernak-pernik dengan penuh ketekunan. Proses produksi pun ia kerjakan sendiri. Setiap bros melalui tahapan yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian, mulai dari pemberian lem hingga penempelan detail logo. Baginya, kreativitas tidak bisa dilakukan secara asal. Ada sentuhan rasa dan ketelatenan dalam setiap karya.
“Membutuhkan kreativitas yang tidak asal tempel,” katanya.
Kini, hasil karyanya dipasarkan baik secara online maupun offline. Ia juga telah memiliki jaringan reseller yang membantu memasarkan produk melalui marketplace dan media sosial.
Produk-produknya pun kian dikenal dan diminati, terutama di kalangan kelompok pengajian, majelis taklim, grup hadroh hingga kumpulan ibu-ibu yang ingin tampil kompak dengan identitas khas.
“Yang banyak pesanan adalah pada resin logo yang nantinya ditempel pada bros,” ujarnya.
Di tangan Muamluaturrahmah, semangat Kartini menjelma dalam bentuk kemandirian, kreativitas, dan keberanian untuk terus berkembang. Dari pesantren hingga pasar digital, ia membuktikan bahwa perempuan mampu menciptakan peluang dari hal-hal sederhana menjahit harapan, satu bros dalam satu waktu. (re/rd/kominfo)