Berita
Petani Sumber Kembangkan Bawang Merah dari Benih, Pemkab Rembang Dorong Penguatan Sentra Hortikultura
- 11 Agustus 2026
- Posted by: rendy
- Category: Berita Pemerintah
Pemerintah Kabupaten Rembang terus mendorong pengembangan bawang merah sebagai salah satu komoditas hortikultura potensial untuk memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan pendapatan petani. Kecamatan Sumber menjadi salah satu wilayah yang mulai menunjukkan potensi pengembangan, termasuk melalui budidaya bawang merah menggunakan benih atau biji yang tengah dikembangkan petani setempat.
Komoditas bawang merah di Kecamatan Sumber dalam dua tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup menjanjikan. Selain didukung kondisi lahan yang sesuai, petani setempat juga mulai menerapkan teknologi budidaya dan memiliki pemahaman mengenai pengendalian hama serta penyakit tanaman.
Manager Brigade Pangan Sumber Sejahtera, Alif Fachrijal Rosyid, mengatakan hasil panen bawang merah di wilayahnya tergolong baik. Harga jual di tingkat petani juga relatif stabil.
“Untuk bawang merah yang sudah melalui proses pengeringan dan pemotongan daun, saat ini dibeli pedagang dengan harga sekitar Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Di tingkat pasar bisa mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram,” ujarnya, Selasa (11/8).
Alif yang juga berprofesi sebagai petani bawang merah menjelaskan, budidaya komoditas tersebut memiliki sejumlah tantangan. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan tanam. Selain itu, petani harus mempersiapkan kebutuhan produksi sejak awal, mulai dari benih, pupuk, hingga obat-obatan tanaman.
Menurutnya, serangan hama dan penyakit menjadi salah satu tantangan yang membutuhkan perhatian khusus.
“Tantangan terberat biasanya serangan hama dan penyakit, seperti ulat, kutu, tungau, dan thrips. Karena itu perawatan harus intensif, termasuk penyemprotan secara berkala,” jelasnya.
Petani di Kecamatan Sumber saat ini mulai mengembangkan metode budidaya bawang merah menggunakan benih atau biji, selain metode yang selama ini lebih umum menggunakan umbi.
Pengembangan tersebut masih dalam tahap pembelajaran dan uji coba. Namun, hasil awal yang diperoleh menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan.
“Kalau menggunakan benih, potensi hasilnya bisa mencapai 15 hingga 20 ton per hektare. Saat ini kami masih dalam tahap pengembangan dan pembelajaran, tetapi hasil awal cukup menjanjikan,” kata Alif.
Menurutnya, pengembangan budidaya dari benih tidak terlepas dari pendampingan penyuluh pertanian serta Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang.
Pemanfaatan teknologi pertanian juga mulai diterapkan untuk meningkatkan efisiensi usaha tani. Salah satunya penggunaan drone untuk membantu proses penyemprotan tanaman.
“Drone yang kami gunakan berasal dari bantuan Brigade Pangan. Awalnya untuk tanaman padi, tetapi saat musim kemarau kami manfaatkan untuk bawang merah dan hasilnya cukup efektif,” ungkapnya.
Ke depan, kelompok tani di Kecamatan Sumber berharap pengembangan bawang merah dapat terus diperkuat melalui pelatihan, terutama terkait pengendalian hama dan penyakit tanaman serta dukungan sarana produksi pertanian.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan potensi pengembangan hortikultura, khususnya bawang merah, masih terbuka lebar.
Menurutnya, bawang merah memiliki prospek pasar yang cukup baik dan berpeluang menjadi salah satu komoditas yang memperkuat ekonomi pertanian di wilayah Pantura.
“Potensi hortikultura utamanya bawang merah ini terus berkembang di Kabupaten Rembang. Prospek pasarnya juga relatif bagus. Selama ini kita masih sangat bergantung pada daerah Brebes dan Tegal. Karena itu, untuk wilayah Pantura kami berupaya agar Rembang menjadi salah satu daerah penghasil bawang merah,” ujarnya.
Agus menyebut budidaya bawang merah saat ini telah berkembang di sejumlah wilayah Rembang, meskipun belum merata di seluruh kecamatan. Selain Kecamatan Sumber, pengembangan juga mulai terlihat di Kecamatan Kragan, Bulu, serta sejumlah wilayah lainnya.
Pemkab Rembang berharap luas tanam bawang merah dapat terus bertambah seiring meningkatnya minat petani, termasuk dari kalangan petani muda.
“Harapan kami ke depan ada penambahan luas tanam bawang merah. Apalagi dengan adanya peran petani milenial yang mulai tertarik mengembangkan komoditas ini. Kami berharap Rembang dapat menjadi salah satu sentra bawang merah,” katanya.
Menurut Agus, pengembangan komoditas tersebut perlu dibarengi dengan modernisasi pertanian. Pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern dinilai dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.
“Kami mendorong teman-teman petani milenial untuk memanfaatkan drone secara optimal sekaligus mengampanyekan kepada petani lain agar pertanian dengan sarana dan prasarana modern terus tumbuh dan berkembang,” jelasnya.
Perkembangan bawang merah di Kabupaten Rembang juga terlihat dari tren produksi dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dintanpan Kabupaten Rembang, pada 2025 luas panen bawang merah mencapai 118 hektare dengan total produksi 11.226 kuintal. Produktivitas rata-rata mencapai 95,14 kuintal per hektare.
Capaian tersebut meningkat dibandingkan 2024. Pada tahun tersebut, luas panen bawang merah tercatat 109 hektare dengan produksi 9.815 kuintal dan produktivitas 90,46 kuintal per hektare.
Dengan demikian, dalam satu tahun produksi meningkat sebanyak 1.411 kuintal, sementara luas panen bertambah sembilan hektare.
Jika melihat tren lima tahun terakhir, produksi bawang merah Kabupaten Rembang juga menunjukkan kecenderungan meningkat. Produksi pada 2021 tercatat 9.137 kuintal, kemudian naik menjadi 9.540 kuintal pada 2022, 9.691 kuintal pada 2023, 9.815 kuintal pada 2024, dan mencapai 11.226 kuintal pada 2025.
Produktivitas juga mengalami peningkatan cukup signifikan. Pada 2021 produktivitas tercatat 65,27 kuintal per hektare, kemudian meningkat hingga mencapai 95,14 kuintal per hektare pada 2025.
Berdasarkan data 2025, Kecamatan Pamotan menjadi salah satu wilayah dengan kontribusi produksi bawang merah terbesar di Kabupaten Rembang. Luas panennya mencapai 65 hektare dengan produksi 5.550 kuintal.
Sementara itu, Kecamatan Gunem mencatat produktivitas tertinggi, yakni 236,83 kuintal per hektare, dari luas panen 12 hektare dengan produksi mencapai 2.842 kuintal.
Data tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bawang merah di Rembang tidak hanya bertumpu pada satu wilayah. Sejumlah kecamatan mulai memiliki potensi untuk dikembangkan sesuai karakteristik lahan dan kemampuan petani.
Pemkab Rembang terus mendorong agar potensi tersebut dapat dikembangkan secara bertahap melalui peningkatan kapasitas petani, penerapan teknologi pertanian, pendampingan penyuluh, serta pemanfaatan sarana produksi yang lebih modern.
Dengan produksi yang terus meningkat dan semakin banyaknya petani yang mulai mengadopsi teknologi budidaya, bawang merah diharapkan dapat menjadi salah satu komoditas hortikultura unggulan yang memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus memperkuat sektor pertanian Kabupaten Rembang. (re/rd/kominfo)