Berita
Sawah Pesisir Sluke Tetap Produktif di Musim Kemarau, Mampu Tanam Padi Lebih dari 80 Hektare
- 20 Agustus 2026
- Posted by: rendy
- Category: Berita Pemerintah
Di tengah musim kemarau yang mulai berdampak pada ketersediaan air di sejumlah wilayah Kabupaten Rembang, kawasan persawahan di Kecamatan Sluke masih menunjukkan produktivitas yang baik. Dukungan sumber air tanah dalam memungkinkan petani tetap melakukan penanaman padi, bahkan pada lahan yang berada di kawasan pesisir.
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sluke, Siti Marjidah, mengatakan sejumlah desa di wilayahnya masih memiliki cadangan air yang cukup untuk mendukung kegiatan pertanian.
“Alhamdulillah masih bisa tanam walaupun kondisi kering. Karena di Sluke ada sumber air dalam, sehingga masih bisa digunakan untuk pengairan sawah,” kata Siti Marjidah, Kamis (20/8).
Ia menyebut lahan yang masih dapat ditanami tersebar di sejumlah desa, antara lain Langgar, Pangkalan, Jatisari, Leran, Jurangjero, hingga Labuhan. Menurutnya, sebagian besar lahan tersebut berada di kawasan yang relatif dekat dengan pantai.
“Justru airnya masih ada di daerah sekitar pantai. Itu yang menjadi ciri khas di Sluke,” jelasnya.
Dengan dukungan sumber air dari sumur dalam yang dipadukan dengan sistem pompanisasi, luas lahan yang berpotensi ditanami pada Agustus ini diperkirakan mencapai lebih dari 80 hektare.
“Kalau untuk bulan ini, insyaallah bisa sampai 80 hektare lebih,” ujarnya.
Siti menambahkan, keberlangsungan pertanian di wilayah tersebut turut didukung oleh berbagai program pemerintah dalam pengembangan infrastruktur pertanian. Pada tahun 2024, kelompok tani di Kecamatan Sluke memperoleh bantuan pembangunan dan pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam (IATD). Program serupa kembali diberikan pada tahun ini, disertai dukungan alat dan mesin pertanian.
“Alhamdulillah kami dulu tahun 2024 dikasih kegiatan IATD, terus tahun ini ada lagi IATD. Alhamdulillah bisa berkontribusi untuk kelancaran irigasi maupun alsintan,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan kondisi pertanian di kawasan pesisir Sluke merupakan potensi yang cukup istimewa karena masih memiliki sumber air yang memadai di saat sebagian wilayah lain mulai menghadapi keterbatasan air.
“Ini memang kondisi istimewa di Rembang. Biasanya ketika kemarau sudah sangat sulit air, tetapi ada daerah yang masih sangat cukup air. Istimewanya lagi berada di tepi pantai, jaraknya sekitar 100 meteran,” kata Agus.
Menurutnya, ketersediaan air dari sumur dalam membuat sejumlah lahan di wilayah tersebut mampu melaksanakan penanaman hingga tiga kali dalam setahun.
“Lokasinya unik dan memang sejauh kami mengikuti, di sana rutin sampai tiga kali tanam karena sumurnya sangat cukup untuk sawah dan kualitas airnya relatif bagus ketika pernah kami cek,” jelasnya.
Agus menuturkan, hasil produksi padi di kawasan tersebut relatif setara dengan daerah lain. Namun, petani memperoleh keuntungan tambahan karena masih dapat menanam pada musim tanam ketiga (MT3), ketika sebagian wilayah lain tidak lagi memungkinkan untuk bercocok tanam.
“Petani menjadi diuntungkan ketika bisa tanam di MT3. Dia bisa panen di waktu-waktu daerah lain tidak bisa tanam, sehingga memperoleh keuntungan karena harga relatif lebih tinggi,” ungkapnya.
Untuk mendukung keberlanjutan pertanian, Pemerintah Kabupaten Rembang sebelumnya juga telah memberikan bantuan penguatan sarana pengairan berupa penambahan sumur dan pompanisasi bagi kelompok tani di wilayah Sluke, Leran, Pangkalan, dan sekitarnya.
Meski demikian, Agus mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber air tanah secara bijak agar keberlanjutan pertanian tetap terjaga dalam jangka panjang.
“Harapan kami, daerah tersebut bisa mengelola sumber airnya dengan bijak sehingga bisa bertahan lama dan berkelanjutan. Jangan sampai terlalu berlebihan mengambil sumber air tanah,” tegasnya.
Ia menambahkan, lokasi persawahan yang berdekatan dengan laut memiliki potensi intrusi air laut apabila pengambilan air tanah dilakukan secara berlebihan.
“Kita harus bijak dalam menggunakan air untuk produksi padi, karena dekat dengan laut ada potensi intrusi air laut,” pungkas Agus. (re/rd/kominfo)